Alam tidak hanya menyuguhkan keindahan,

 tapi juga menyimpan banyak misteri,

yang melahirkan rasa takut.

Membaca buku genre horror memang sedikit membutuhkan nyali besar. Meskipun sebenarnya cerita-cerita horror sudah seringkali kita dengar terjadi di sebuah sudut bumi ini. Tetapi, akan tetap saja memberikan tantangan tersendiri dengan membaca cerita horror. Kata demi kata hingga menyelesaikan sebuah cerita, kesan mistis dan menakutkan pastilah ada.

Sama halnya dengan buku horror yang berjudul “Penunggu Puncak Ancala” ini. Buku yang berisi kumpulan cerita para pendaki gunung, yang tak hanya mendapatkan keindahan alam di puncak gunung, tetapi pengalaman mistis yang penuh misteri seringkali menyapa mereka. Jika orang lain yang “mungkin tidak percaya” akan keberadaan hantu dan sejenisnya, pasti akan berkata: “Ah, itu perasaanmu saja!”. Tetapi bagi yang merasakannya sendiri, tentu hanya mampu bercerita dan menyerahkan kepercayaan pada pendengarnya sendiri. Sebab, mengada-ada soal makhluk gaib bukan pekerjaan mudah. Selalu ada imbalan yang diterima.

Kata “ancala” dalam judul buku ini menambah lagi kosakata bahasa Indonesia saya. Meskipun sebenarnya dari awal sudah menebak-nebak arti “ancala” pastilah “gunung”. Sebab hampir semua cerita di dalam buku “Penunggu Puncak Ancala” berkisah tentang pengalaman mistis para pendaki gunung. Yah, awal yang baik karena memancing rasa penasaran dari judulnya (menurutku lho yah 😀 )

***

#Bukune Review Penunggu Puncak Ancala Alam itu Indah namun Penuh MisteriJudul: Penunggu Puncak Ancala

Penulis: Indra Maulana, Sulung Hanum, Ageng Wuri, Acen Trisusanto, Dea Sihotang

Penerbit: Bukune

Tahun Terbit: September 2013

Tebal: viii + 208 halaman, 13 x 19 cm

ISBN: 602-220-113-6

Ada 10 (sepuluh) cerita yang ditawarkan dalam buku ini kepada pembaca. Dan yang paling menarik perhatian adalah cerita yang berjudul: “Teman Mendaki” di Gunung Sumbing (Indra Maulana). Apa menariknya? Menariknya di sini:

Mendaki gunung ditemani dengan seseorang tentu sudah sangat biasa. Dan memang tidak bakalan seru ketika mendaki gunung sendirian,kecuali ingin mencari sensasi dan menikmati alam dengan kesendirian. Tetapi, bagaimana jika selama ini kita selalu naik gunung dan ditemani sosok yang sebenarnya sudah tiada? Dia begitu nyata dan dengan senang hati memberikan petunjuk demi petunjuk tentang mendaki gunung yang baik. Bahkan sampai menolong dan juga berkenalan satu sama lain. Hmmm… pengalaman yang pasti tidak bisa dilupakan oleh seorang pendaki gunung jika mengalami hal yang serupa. Apalagi ditambah dengan bukti nisan yang benar-benar menyatakan bahwa sosok yang “dianggap nyata” oleh kita sudah meninggal dunia.

Cerita menarik lainnya ada pada judul “Pendaki Misterius di Gunung Salak”. Yah, menarik karena diceritakan dengan begitu mengalir oleh penulis (Acen Trisusanto). Bertemu dengan sesama pendaki gunung saat menjalani pendakian tentu sangat menyenangkan, bukan? Apalagi jika pendaki tersebut sudah terlebih dahulu sampai di puncaknya. Otomatis bisa sedikit memberikan peringatan atau informasi mengenai kondisi puncak gunung Salak yang akan dituju. Tetapi berbeda jika pendaki tersebut hanya diam, dingin dan tanpa suara. Diajak berbincang juga hasilnya tetap sama, yaitu “diam”. Dan akan lebih mengejutkan lagi jika pendaki tersebut ternyata bukanlah manusia seperti yang kita bayangkan sebelumnya. Sosok yang menyerupai pendaki gunung yang sebenarnya sudah meninggal dunia “baru saja” di atas puncak gunung Salak karena keracunan Belerang. Kaget? Tentu saja iya. Namun pendaki gunung yang mengalami hal serupa harus bilang apa? Hmmm…

Dan masih ada beberapa kisah lagi yang begitu menarik untuk dibaca…

***

Buku Penunggu Puncak Ancala sudah mampu mewarnai genre horror di dunia perbukuan. Alur cerita yang mengalir juga sudah menjadi kenyamanan tersendiri yang bisa saya rasakan sebagai pembaca. Meskipun sebenarnya ada beberapa kisah yang tidak berpusat di gunung,melainkan pantai dan danau. Tetapi sudah termasuk memberikan warna dalam kumpulan cerita ini.

Ilustrasi yang mewakili setiap cerita juga sangat menarik sehingga menimbulkan ketertarikan untuk terus membaca sampai akhir. Mulai dari cover hingga layout membuat ketertarikan tersendiri dan sesuai dengan judul dan tema setiap cerita.

Jika melihat tingkat horror buku “Penunggu Puncak Ancala” ini, masih dalam taraf wajar dengan memberikan rasa penasaran untuk takut. Misteri yang diangkat juga tidak mengandung unsur pornografi seperti film-film horror yang menjamur di berbagai sinema. Dan seharusnya buku ini bisa jadi acuan untuk membuat film horror. Menakutkan tetapi menambah pengetahuan. Bukan menakutkan tetapi meninggalkan kesan jijik karena adanya unsur porno dan sejenisnya.

Soal tata bahasa, hmmm… rasanya terlalu pintar jika saya ikut mengomentari 😀 sebab, gaya bahasa masing-masing penulis berbeda dan tentu saja dari pihak penerbit sudah mengedit dengan jeli sebelum diterbitkan. Jadi, biarkan penulis menulis sesuai dengan gayanya…

Overall, buku Penunggu Puncak Ancala ini bisa jadi pegangan kamu-kamu yang merasa senang dengan dunia trekking. Biasanya pemuda dan pemudi yang berkecimpung dalam organisasi MAPALA (Mahasiswa Pecinta Alam) akan cocok sekali dengan buku ini. Sebab waktu saya kuliah dulu, MAPALA selalu identik dengan orang-orang yang senang mendaki gunung.

Dan saya menantikan kisah-kisah misteri selanjutnya yang berada di puncak ancala lainnya…

NB:

Saya beri 4 dari 5 bintang untuk buku ini ^_^

ABOUT THE AUTHOR:

Leave A Response