Gramedia itu Solusi Masalahku – Sejak mendiang bapak tahu saya gemar membaca dan menulis, sejak itu pula beliau mulai mengakrabkan saya dengan Gramedia. Saat itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Entah kenapa membaca membuat saya jadi lebih nyaman dan tenang. Bonusnya adalah menambah pengetahuan dan tentu saja kosakata baru.

Gramedia selalu menjadi tempat favorit saat buku raport selesai dibagikan. Ya, setiap upacara kenaikan kelas dilakukan, secara otomatis ada waktu libur. Nah, waktu libur itulah yang paling saya nantikan. Bukan untuk bermain saja, tetapi ikut bapak ke kota, tepatnya ke Gramedia. Kalau ibu sedang asyik berbelanja keperluan dapur dan rumah tangga lainnya, maka bapak selalu mengalihkanku untuk mencari tahu buku-buku terbaru. Menghabiskan waktu libur di Gramedia (meskipun hanya sehari) itu sudah surga buat saya pribadi.

Seiring berjalannya waktu…

Bapak memang sudah tiada namun semangat dan nasehatnya agar selalu cinta buku dengan membacanya tetap terjaga. Saya pun seringkali meluangkan waktu ke Gramedia. Bahkan jeda antara kuliah satu dengan lainnya yang terkadang waktunya sangat lama, maka kaki ini seperti sudah terhipnotis untuk menunggu saja di Gramedia.

Solusi Masalahku…

Gramedia menyimpan banyak jawaban dari berbagai problema kehidupanku. Mulai dari jawaban tugas-tugas kuliah, kesehatan gigi, berat badan batas seimbang, hingga pada permasalahan hati. Beragam jawaban tersimpan dengan rapi pada setiap halaman demi halaman buku yang berderet di sana. Tempat yang nyaman dan tenang membuat saya bisa lebih berpikir jernih. Kenapa tidak ke perpustakaan saja? Jawabannya sederhana, tidak semua perpustakaan ber-AC, hehe… lagipula jika ke Gramedia, saya bisa berinteraksi dengan pengunjung lainnya. Entah sekedar kenalan atau untuk mendapatkan bahan menulis. Bahkan sekedar menghirup aroma buku saja.

Hanya saja tidak semua Gramedia memiliki kursi untuk duduk sekedar membaca sinopsis dari buku-buku yang “menarik perhatian”. Jadi perlu kaki yang kuat untuk terus berdiri menikmati dan mengamati dengan jeli setiap buku yang ada di sana. Biarpun begitu, tetap saja Gramedia punya daya pikat tersendiri dalam perjalananku selama ini.

Kini, mengunjungi Gramedia tak mampu sebebas dulu lagi. Sebab setelah menikah dan memiliki anak, pergerakan keluar rumah terkadang sulit karena berada di desa. Namun, hal itu tergantikan dengan adanya Gramedia yang bisa diakses secara online. So, tak ada alasan untuk tidak tahu bagaimana Gramedia saat ini.

Kalau kamu, bagaimana Gramedia di matamu?

Gramedia

Tags: , , ,

ABOUT THE AUTHOR:

Leave A Response