Korupsi. Sudah bukan kata asing lagi di telinga. Hampir seluruh lini dalam kehidupan sejatinya bersinggungan dengan hal satu ini. Sadar atau tidak sadar, sebenarnya “tingkah laku” korupsi terlakoni oleh banyak orang di sekitar kita. Bahkan termasuk diri kita sendiri.

Lho, kok gitu?! Ya, “aktivitas” korupsi sebenarnya sudah lama terjadi. Tidak begitu jauh dari setiap aktivitas kita. Hanya saja, definisi kata “korupsi” melekat begitu erat sebagai gambaran orang-orang berdasi, bekerja di balik meja, di ruang kantor ber-AC dan bermobil mewah. Padahal tidak selamanya seperti itu. Kebetulan sekali mereka yang berdasi memang “memiliki” uang dan harta benda yang “tidak masuk akal” jika dikaitkan dengan pekerjaan dan penghasilannya.

Gino Kamyanto hadir seakan mencoba “mengingatkan” kita semua bahwa korupsi tak sesempit akan definisi itu. Korupsi sekali lagi adalah sesuatu yang terjadi kadang tanpa diduga atau bahkan sudah seringkali dilakukan, tanpa sadar. Ya, TANPA SADAR. Komik Komedi Pelaku Korupsi: Berani Ngaku Lebih Hebat! ini bisa menjadi cermin diri kita sendiri. Ayo, ngaku!

***

Komedi Pelaku Korupsi: Berani Ngaku Lebih Hebat!

Judul: Komedi Pelaku Korupsi: Berani Ngaku Lebih Hebat!

Penulis: Gino Kasmyanto

Penyunting: Zulfa Simatur

Penerbit: Visimedia Pustaka

Tebal: iv +100 hal

ISBN: 978-979065-2143

Dalam komik ini benar-benar memberikan gambaran sekaligus (mungkin) “tamparan” bagi kita akan korupsi. Tidak sediki dari kita begitu menghujat bahkan membenci mati-matian para pelaku korupsi, tetapi (mungkin) lupa bahwa dirinya sendiri belum tentu lebih bersih dari pelaku korupsi tersebut. Memang yang berdasi begitu “memekakkan” telinga dengan jumlah yang “wow”, boleh jadi berawal dari hal yang kecil.

“Korupsi Uang Belanja” – Mungkin hal ini sepele tetapi jika teradi terus-menerus tentu akan berdampak buruk bagi si pelaku dan orang yang menjadi objek korupsi. Uang belanja tidak hanya “bisa” dikorupsi oleh ibu-ibu. Suami pun “sangat bisa”. Entah ingin dibuat apa, uang belanja bulanan istri bisa dikorupsi dengan alasan tidak mendapatkan tambahan penghasilan atau gaji belum keluar (Hal. 17)

Korupsi Uang Belanja

“Tahanan Koruptor” – Bagi yang sudah menjadi tersangka korupsi, tidak semuanya mengalami perlakuan yang sama. Ada yang mendapatkan “kesengsaraan” di dalam buih ada juga malah sebaliknya. Layaknya seperti tidak terjadi apa-apa. Hanya tempat yang berbeda, tadinya di rumah sekarang sedang dalam tahanan. Sebab fasilitas dan semuanya tetap bisa dinikmati dengan baik. (Hal. 30)

Tahanan KPK

“Modis” – Dan tidak bisa dipungkiri bahwa kebanyakan pelaku korupsi justru orang-orang ternama. Orang-orang yang dengan kelimpahan materi dan harta benda, bahkan namanya sudah tidak asing lagi (baca: public figure/actress/actor). Jadi tak salah juga jika di dalam buih banyak hal-hal yang bisa saja terjadi kehebohan seperti itu. (Hal. 70)

Modis

***

Masih banyak lagi hal-hal di sekitar kita yang sebenarnya sudah “mengarah” pada korupsi. Hanya saja otak kita sudah terlalu mematok bahwa koruptor yang melakukan praktek korupsi hanya yang penampilannya keren.

Komik ini sangat bermanfaat bagi siapa saja yang men-judge dirinya Anti Korupsi. Boleh dibaca sebagai pelindung atau mungkin introspeksi diri. Karena beberapa kisah di dalam komik ini boleh jadi sering dialami bahkan mungkin tidak bisa terlepas darinya. Ayo, Ngaku! Hehehe…

Secara umum, desain komik sudah bagus dan menggelitik. Apalagi komik komedi, sudah mampu membuat saya pribadi tertawa bahkan terpingkal ketika membaca satu kisah ke kisah lainnya. Bahasa sangat mudah dimengerti dan sampul komik yang sudah begitu memikat untuk segera membacanya sampai tuntas. Hanya saja, masih perlu penambahan kisah lain lagi yang tidak jauh-jauh dari kehidupan kita sehari-hari.

Oiya, bentuk komiknya terlalu besar menurut saya. Jadi agak susah disimpan di saku untuk teman saat bepergian. Lumayan baca komik di perjalanan bisa bikin makin happy.

Saya beri 4 dari 5 bintang yang saya punya untuk komik ini.

ABOUT THE AUTHOR:

< Previous Article
Next Article >

Leave A Response