Pembunuh pasti penasaran melihat hasil karyanya. Dia pasti kembali ke tempat semula. Sekadar memastikan jejaknya agar tidak terlacak

 Review TKP Bicara

Judul: TKP Bicara

Penulis: Aiptu Pudji Hardjanto

Penerbit: PT. Revka Petra Media

Penyunting: Noviyanto Adji

Tebal: xxviii + 220 halaman

ISBN: 978-602-0840-83-3

***

Blurb

Sejak pulang dari Atambua, Aiptu Pudji Hardjanto mendapat tugas baru, yakni mengurus mayat. Bukan mayat biasa, melainkan mayat korban pembunuhan. Anggota unit Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis) Jawa Timur ini boleh dibilang menguasai apa yang disebut Jeffrey Deaver dalam novel-novel kriminalnya: hukum pertukaran materi. Bahwa ketika terjadi sebuah peristiwa kriminalitas, selalu terjadi transfer materi. Banyak kasus pembunuhan maupun tragedi kemanusiaan berhasil diungkap Aiptu Pudji. Cara mengungkapnya pun tidak biasa dan unik, malah terkesan sepele. Bagaimana bisa?

***

Merinding, tidak bisa tidur, menjadi lebih penakut dengan mayat sepertinya menghantui saya saat selesai melahap buku yang ditulis oleh salah satu anggota kepolisian ini. Kalau dilihat ketebalannya masih wajar dan bisa terselesaikan dalam kurun waktu kurang dari sehari. Hanya saja, setelah menikmati lembaran demi lembaran dalam buku ini, selalu saja ada yang mengganggu. Yap, seperti yang sudah saya sebutkan di awal paragraf ini.

Namun, bukan berarti lantas saya tak mampu menuliskan sesuatu tentang buku ini. Hmm… karena saya sebagai pembaca sekaligus reviewer, maka sudah jadi kewajiban saya (setidaknya pada diri sendiri) untuk sharing apa yang saya dapat. Duh, kakak bertele-tele sekali…! Maafkan, hehe…

Saya banyak belajar dari buku ini bahwa seorang Inafis ternyata perlu bekerja dengan seluruh panca inderanya plus insting yang datang begitu saja. Sebenarnya sih bukan datang begitu saja. Semuanya pasti ada Allah yang campur tangan. Benar apa betul? Hihi. Kemampuan penulis dalam mengungkap setiap kasus yang tidak wajar tidak lain karena keyakinan dan cintanya ia pada tanggung jawab yang diembannya. Penulis boleh berpenampilan gondrong, tetapi hati tetap lembut dan peka terhadap sekeliling. Cieee…

Paling menarik dalam kacamata saya adalah penulis tidak pernah memakai masker saat mengidentifikasi atau menganalisis TKP, korban dan bukti-bukti yang terkait. Bahkan ada kasus diceritakan dalam TKP Bicara ini adalah korban yang sudah berhari-hari ditimbun di sebuah tabung gas kosong dan tentunya menghasilkan bau yang menyengat saat dibuka. Tetapi penulis tetap santai dan berusaha menganalisa bagaimana korban bisa dimasukkan dan alasan bau pesing menyengat bisa terjadi. Aduh, saya saja yang hanya membaca sudah merasakan mual apalagi jika harus berdiri menyaksikan mayat itu. Bisa jadi saya yang menjadi sorotan public karena pingsan akibat tak kuasa menahan bau.

Bersama Aiptu Pudji

Ciri Khas Penulis dengan Kacamata Hitam

Ada lagi kasus lain menarik dimana sebuah pembunuhan dimodifikasi sedemikian rupa sehingga tampak seperti peristiwa bunuh diri yang dilakukan oleh seorang mahasiswi. Dan si penulis, yang kesehariannya selalu menggunakan kacamata hitam ini, berhasil menguak bahwa sang mahasiswi bukan mati bunuh diri tetapi dibunuh. Alasannya, si korban (mahasiswi) meninggal dalam keadaan tangan kanannya teriris pisau. Lantas apa yang mengganjal sehingga ini bukan bunuh diri? Karena seorang yang normal alias tidak kidal, akan memotong urat nadi pergelangan tangannya di sebelah kiri, bukan di kanan. Begitupun sebaliknya. Dan si korban tersebut sama sekali tidak kidal sehingga semakin meyakinkan si penulis bahwa korban di bunuh.

Well… overall isi buku ini sangat informatif dan bisa dijadikan bahan referensi oleh mahasiswa-mahasiswi yang mengambil jurusan kuliah yang ada hubungannya dengan forensik. Saya pun ingat bagaimana magang dulu di badan forensik yang setiap hari bertemu dengan berbagai jenis organ tubuh yang akan diuji.

Soal kelemahan buku ini, terdapat kata-kata yang masih belum baku tetapi tetap digunakan. Layout-nya pun sudah bagus meskipun sederhana. Soal penampakan cover buku, jujur saja bikin merinding tengah malam jika kebetulan melihatnya. Kok bisa? Lha wong terlihat si penulis sedang bercengkerama dengan korban kok. Seolah korban membelai si penulis. Iiihh…

Eits, tetapi sayang lho jika buku ini lewat begitu saja. Sebab penakutnya saya jangan dijadikan alasan untuk tidak menggali banyak info dalam buku ini. Dan ada 3 dari 5 bintang yang saya punya untuk buku TKP Bicara ini.

Postingan ini diikutsertakan dalam Project Battle Challenge #31HariBerbagiBacaan

Tags: , ,

ABOUT THE AUTHOR:

Next Article >

1 Comment on this article. Feel free to join this conversation.

  1. Hastira August 9, 2016 at 8:09 pm - Reply

    wah aku suka banget cerita semacam ini, bisa2 gak ngapain2 baca terus

Leave A Response